Saturday, October 13, 2012

Tentang Sertifikasi Guru di Aceh

Advertisement

Sekitar 4.900 orang guru dari berbagai jenjang pendidikan di Provinsi Aceh dinyatakan tidak lulus ujian sertifikasi pada tahun 2012 ini. Dari 6.700 yang ikut, hanya 1.800 yang dinyatakan lulus, sedangkan selebihnya harus mengikuti ujian ulang. Ketua PGRI Aceh, Ramli Rasyid mengungkapkan, dengan banyaknya guru tidak lulus sertifikasi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua pihak. Namun, hal ini bukanlah kesalahan guru semata, tetapi banyak faktor penyebabnya yang harus segera dicari solusinya.

Salah satu solusinya, PGRI Aceh mendesak Pemerintah Pusat melalui Kemdikbud untuk mengubah sistem dan pola yang digunakan dalam ujian sertifikasi bagi guru. Sebab, kondisi ini bukan saja terjadi di Aceh tetapi secara umum di Indonesia. Dijelaskan, banyak persoalan yang muncul saat dilakukan ujian secara serentak dan diklat sebelum ujian dilakukan terlalu lama hingga 9 hari baru kemudian dilanjutkan ujian sertifikasi.

Waktu yang terlalu panjang itu membuat konsentrasi guru terpecah-pecah, apalagi mereka datang ke Banda Aceh dari berbagai daerah dengan menggunakan dana sendiri, baik untuk transportasi maupun penginapan serta kebutuhan lain. Sementara Ketua Kobar GB, Sayuthi Aulia mengungkapkan, berdasarkan hasil investigasi yang mereka lakukan, ternyata besarnya jumlah guru yang tidak lulus sertifikasi dikarenakan adanya indikasi dari permainan dari pihak penyelenggara dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari FKIP Unsyiah.

Dikatakan, LPTK yang menyelenggarakan Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) melakukan permainan yang berakibat ribuan guru mengalami kerugian, sehingga mereka tidak lulus ujian sertifikasi meskipun sudah 9 hari mengikuti PLPG. Berdasarkan investigasi dan informasi yang diperoleh dari"orang dalam" LPTK, Kobar GB menemukan bukti ketidaklulusan ribuan guru itu merupakan faktor kesengajaan agar LPTK bisa menggelar ujian susulan guna menghabiskan anggaran yang tersedia.

Indikasi ini semakin diperkuat dengan dilakukannya ujian ulang sertifikasi secara mendadak, sehingga banyak guru yang tidak bisa ikut bahkan tidak sedikit pula yang tidak mau ikut karena kecurangan mulai tercium kalangan guru. Ironisnya lagi, lanjut Sayuthi, para guru yang tidak lulus itu umumnya mengikuti ujian lokal yang soalnya dibuat LPTK FKIP Unsyiah sendiri, sedangkan ujian yang berstandar nasional yang soalnya dibuat pusat, umumnya lulus.

Meskipun demikian, baik Ramli maupun Sayuthi tidak sepakat jika LPTK itu diganti, yang perlu dibenahi adalah orang-orang di dalamnya yang berlaku tidak profesional dan merusak kepercayaan dari Kementrian Pendidikan sebagai satu-satunya lembaga yang berhak melakukan PLPG dan ujian sertifikasi guru di Aceh. "Jika ingin membenahi LPTK, bukan lembaganya yang dihapuskan, namun orang-orangnya yang tak profesional harus segera diganti," tandas Ramli.

Demikian info tempat Sertifikasi Guru di Aceh, semoga bermanfaat!. Terima kasih!

Sumber : Harian Analisa

Related Articles:

0 comments:

Post a Comment