Saturday, November 10, 2012

Masalah Sertifikasi Guru SD

Advertisement

Para guru sekolah dasar (SD) yang tidak lulus sertifikasi mengaku sangat tertekan ketika mengikuti ujian dan dinyatakan tidak lulus. Mereka mengeluh selama ini soal tidak dibedakan antara guru SD, SMP, SMA. Nilai hasil ujian juga tidak diumumkan transparan. Nurdin Ginting (54) Kepala Sekolah SD 040481 Cinta Rakyat, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, mengaku sudah dua kali mengikuti ujian sertifikasi namun hasilnya tidak lulus alias gagal.

"Saya sudah tidak sanggup untuk ujian sekali lagi, mata saya sudah rabun, pendengaran kurang," tutur Nurdin. Apalagi soal penguasaan teknologi, Nurdin mengaku menyerah. Namun ia mengaku berusaha menjawab semua soal dan menyelesaikan tugas namun tidak tahu dimana letak kesalahannya sehingga tidak lulus. "Nilai tidak pernah dipublikasikan," tutur Nurdin.

Wajar Gurusinga (51), Kepala SD 106821 Bandar Baru, Deli Serdang mengatakan dari 36 orang di kelasnya, 24 diantaranya tidak lulus, termasuk dirinya. Siam br Karo (57) Guru Kelas 1 SD Inpres 044848 Tiga Panah, Karo juga mengatakan hal yang sama. "Saya sudah mengabdi selama 34 tahun, sebentar lagi pensiun, sulit kalau bersaing dengan yang muda-muda," tutur Siam.

Para guru menyesalkan tidak ada pembedaan soal bagi guru SD, SMP, dan SMA sehingga para guru SD kalah bersaing. Apalagi materi dalam Program Latihan Profesi Guru (PLPG) dinilai para guru tak ada korelasinya dengan pengajaran di Sekolah Dasar.

Ketua Gabungan Pendidik dan Tenaga Pendidik (GP Tendik) Indonesia Sumatera Utara FJ Pinem mengatakan dari 20.635 quota sertifikasi guru di Sumut tahun 2011, sebanyak 8.262 guru tidak lulus. Sekitar 90 persen guru dari mereka adalah guru sekolah dasar.

Lebih dari 2.000 guru yang tidak lulus itu bahkan gagal untuk kedua kalinya. Para guru mendesak pemerintah agar para guru yang sudah mengikuti PLPG bukan dijadikan guru yang tidak lulus sertifikasi. "Saat mereka tidak lulus, mereka kecewa, kinerja menurun, kualitas pendidikan pun menurun," tutur Pinem.

Pinem mengatakan pihaknya telah menerima laporan adanya dua guru di Kota Medan yang karena tertekannya bakal mengikuti sertifikasi sampai stress dan meninggal. Satu meninggal karena kecelakaan lalu lintas, satu karena terjatuh di rumahnya.

Sumber : Kompas

Related Articles:

0 comments:

Post a Comment