Thursday, March 21, 2013

Implementasi Kurikulum 2013 Perlu Guru yang Inovatif

Advertisement

Pelaksanaan kurikulum 2013 harus dibarengi dengan kemampuan guru untuk menguasai teknologi informasi komunikasi dan inovatif dalam mengajar. Menurut Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harris Iskandar, Ph.D menyatakan bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum teknologi. Menurutnya dari sekitar 5,6 juta guru di Indonesia, baru sekitar 2 persennya saja yang inovatif,” demikian kata Haris Iskandar saat bertemu wartawan, di Solo, Jawa Tengah.

Padahal, lanjut Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, bagi guru yang inovatif, perubahan kurikulum tak harus mereka akses dari jalur resmi namun bisa searching di internet. Selanjutnya sehingga bagi guru yang modern, ketika kurikulum berubah sudah bisa melaksanakan dari sekarang.

Untuk kelancaran kurikulum 2013 mendatang, menurut Harris, kuncinya pada guru. Tinggal bagaimana memiliki harapan yang tinggi pada guru. Seperti halnya seorang guru memiliki harapan yang tinggi terhadap anak didiknya.

“Kendati hasil ujian kompetensi guru masih rendah, tetapi kita musti memiliki harapan yang tinggi terhadap guru. Dengan harapan tinggi, mudah-mudahan kinerja guru juga tinggi,” tandasnya.

Harris menyatakan bahwa masyarakat harus berani melakukan tindakan, dan tidak menyerah hanya pada insiden. Kita jangan terpukul hanya karena insiden seperti yang tempo hari terjadi ada 4.000 guru yang salah mengisi uji kompetensi guru.

“Tetapi jika melihat jumlah guru yang 5,6 juta, persoalan 4.000 guru yang salah mengisi adalah insiden yang terlalu kecil,” ujarnya.

Untuk itu, tandas Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, dalam rangka meningkatkan pendidikan di Indonesia, maka semua komponen harus bergerak, mulai dari pemerintah, sekolah hingga masyarakat supaya gandrung pada pendidikan.

Sumber: Suara Merdeka


Related Articles:

0 comments:

Post a Comment