Thursday, May 9, 2013

Tentang Evaluasi Guru Bersertifikasi

Advertisement

Apabila kita menyimak media massa, terutama media cetak banyak sekali kritik dilontarkan kepada guru, juga pada program sertifikasi guru. Menurut kami kalau kita lihat sudut pandang positive thinking, lontaran kritik tersebut bukan bersifat pribadi dan bukan ungkapan rasa benci, tetapi sebaliknya justru karena penghargaan terhadap profesi guru. Anggota masyarakat justru merasa bahwa peran guru yang sangat startegis untuk menghantarkan generasi sekarang ke masa depan bangsa yang lebih cermerlang.

Salah satu bentuk kritikan pada guru atau salah satu ungkapan kekurangpercayaan misalnya terkait implementasi Kurikulum 2013. Implementasi kurikulum baru terutama untuk pelatihan guru selalu dipermasalahkan oleh banyak pihak. Dari durasi pelatihan yang singkat hingga metode pelatihan, menuai dikritik. Bahkan guru dinilai tak siap untuk menjalani perubahan ini. Benarkah demikian? Sementara pihak ada juga yang mengkhawatirkan, karena masa sosialisasi kurikulum baru yang terlalu singkat ditakutkan akan berdampak terhadap lemahnya pemahaman para guru.




Namun, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa guru yang selama ini disebut sebagai ujung tombak penerapan kurikulum baru dan sebagai elemen penting dalam kurikulum baru ini menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut Menteri, guru-guru ini malah antusias sekali, karena para guru adalah pelakunya. Seperti di Lombok, di Jogja, guru ini malah senang. Apalagi saat dikatakan tidak perlu lagi membuat silabus, menurutnya, sebagian besar guru yang ada di daerah yang selama ini dikatakan akan kesulitan menerapkan kurikulum baru justru malah sebaliknya. Para guru ini dinilai cukup bersemangat dengan perubahan kurikulum ini. Bahkan banyak guru tidak sabar untuk segera menjalankan pelatihan.

Sedangkan kritikan terkait sertifikasi guru diantaranya bahwa program sertifikasi guru belum mampu mendongkrak kualitas pendidikan (untuk daerah tertentu). Katanya, program sertifikasi guru baru berdampak pada peningkatan kesejahteraan guru secara signifikan. Dengan kata lain, sertifikasi guru belum berdampak langsung pada kemajuan peningkatan kualitas pendidikan, karena hal itu dipengaruhi berbagai aspek yang mesti bersinergi. Bukan hanya faktor guru yang mengajar, tetapi kebijakan pemerintah menyediakan fasilitas pendukung proses belajar dan mengajar juga turut menentukan. Tim pemantau dan evaluasi program sertifikasi guru menjadi salah satu yang akan menjadi ukuran keberhasilan dalam mendorong kualitas pendidikan.


Kritikan lainnya yang pernah dipublikasikan di media adalah katanya program sertifikasi guru oleh pemerintah belum meningkatkan prestasi guru dan siswa secara signifikan. Sertifikasi guru hanya efektif meningkatkan minat kaum muda memilih pendidikan sebagai calon guru. Kesimpulan sementara itu berdasar pada hasil kajian Bank Dunia terhadap pelaksanaan sertifikasi guru tahun 2009, 2011, dan 2012 yang dipaparkan Mae Chu Chang, Head of Human Development Sector Indonesia, pada pertemuan organisasi guru ASEAN di Denpasar. Penelitian di 240 SD dan 120 SMP meliputi 3.000 guru dan 90.000 siswa. Sertifikasi tak mengubah praktik mengajar dan tingkah laku guru. Perubahan yang dilakukan pemerintah untuk membayar lebih guru tak diterjemahkan dalam hasil belajar yang bagus.

Menanggapi kajian Bank Dunia, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo di Jakarta, Minggu (16/12), menjelaskan, sertifikasi baru langkah awal untuk pengakuan guru profesional. Menurutnya jika tanpa diiringi sistem peningkatan profesionalisme guru yang berkesinambungan, tentu saja sertifikasi guru tak berdampak apa-apa. Sayangnya, pemerintah dan pemerintah daerah belum mampu membangun sistem peningkatan profesionalisme yang berkelanjutan bagi tiap guru.

Terkait masalah ini, Prof. Suyanto, Ph.D Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud beranggapan bahwa guru yang saat ini sudah memegang sertifikat pendidik akan segera dievaluasi. Demikian rencana pemerintah dalam kerangka meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara terus menerus. Pendidikan dalam prosesnya akan menghasilkan outcome yang final. Artinya, sekali satuan pendidikan memberikan tanda tamat belajar kepada siswa, itulah hasil akhir dari proses yang ditawarkan sekolah dan dibeli oleh siswa. Jadi, kalau terjadi kesalahan dalam proses pendidikan yang diakibatkan oleh tidak dimilikinya kompetensi oleh guru, maka tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki outcome dari sebuah proses pendidikan oleh satuan pendidikan itu sendiri.

Kalau saja guru mengajarkan konsep, pengetahuan, ilmu, maupun sistem nilai yang salah kepada siswa, maka setelah seorang siswa lulus dari sekolahnya semua bentuk kesalahan itu akan dibawa serta oleh para lulusan kemana saja dia hidup dan mengabdi. Oleh karena itu guru harus benar-benar profesional, menguasai kompetensi profesi, akademik, sosial, maupun kompetensi pribadi.

Mengapa harus dievaluasi? Apakah tidak pantas dipercaya mereka para guru yang telah mendapatkan sertifikat pendidik? Persoalannya bukan percaya tidak percaya, tetapi permasalahnnya lebih terletak pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu mengikuti prinsip deret ukur, sedang peningkatan kompetensi para guru bisa dipastikan hanya bisa berjalan sesuai prinsip deret hitung. Di samping itu, saat ini pembangunan pendidikan kita memusatkan pada kebijakan peningkatan mutu layanan.

Jika saja para guru yang telah disertifikasi itu tidak berdampak pada mutu layanan, apa kata dunia pada sektor pendidikan kita? Di negara maju semua profesional juga selalu dievaluasi secara periodik. Seorang mekanik saja, di Amerika Serikat, harus lulus uji sertifikasi setiap lima tahun sekali. Kalau tidak lulus, maka ijin bengkelnya dicabut. Begitu juga seorang dokter, setiap lima tahun sekali harus menjalani uji kompetensi. Kalau tidak lulus mereka di-grounded, tidak bisa prektek kedakteran lagi. Bagaimana semangat eavaluasi para guru bersertifikat pendidik? Tentu tidak ada niatan untuk memutuskan kegiatan mengajar mereka di dunia pendidikan, terlebih lebih memutuskan tunjangan profesinya. Tujuan utamanya ialah agar para guru profesional kita sadar bahwa continues professional development tetap dilakukan secara terus menerus.

Ada gejala bagi guru yang telah bersertifikasi tidak mau lagi meningkatkan kompetensi profesi mereka. Jika diminta untuk mengikuti seminar akademik saja mereka ogah-ogahan lantaran telah memiliki sertifikat pendidik. Di samping itu, pemerintah memang sudah luar biasa memberikan berbagai tunjangan kepada para guru kita. Paling tidak tahun ini di jenjang pendidikan dasar saja talah mencapai 30 trilyun rupiah untuk membayar berbagai tunjangan guru. Oleh karena itu wajar kalau kompetensi mereka dipetakan melalui sebuah evaluasi kompetensi.

Demikian sekedar wacana tentang Evaluasi Sertifikasi Guru yang disusun oleh team sertifikasi-guru.com, semoga jadi bahan bacaan dan renungan kita semua. Satu hal patut dicatat bahwa guru adalah tetap guru yang selalu bersemangat dalam tugas-tugasnya. Dalam perspektif pedagogis guru merupakan suatu konsep yang menggambarkan sosok pribadi mulia yang menjalankan peran mengajar, baik transferring dan transforming. Mengajar dalam arti transferring yaitu “memindahkan” informasi yang disebut ilmu pengetahuan kepada para siswa yang diajarnya, sedangkan mengajar dalam arti transforming yaitu menamkan nilai budaya positif kepada para siswa yang diajarnya. Dalam menjalankan peran kedua, guru tidak hanya mengajarkan tetapi sekaligus menjadi suri tauladan bagi siswanya.

Kenyataannya di lapangan, walaupun permasalahan tunjangan profesi belumlah lancar namun guru tetap melaksanakan tugas mengajar dengan baik. Walaupun Tunjangan belum lunas sertifikasi guru terus berlanjut. Bahkan untuk meningkatkan kompetensi guru, sebentar lagi Uji kompetensi akan digelar. Usaha pemerintah dalam peningkatan mutu guru tidak akan berhenti sampai di tahap sertifikasi guru saja. Pemerintah akan terus melakukan upaya untuk mengukur kinerja guru. Semoga bermanfaat, Amin Ya Rabbal Alamin!



Related Articles:

1 comment:

  1. Uji Kompetensi Guru Bersertifikasi penting.. Tapi masih banyak faktor lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Salah satunya kebijakan di daerah, dimana guru yang "cercas" dan "tidak cerdas" tidak ada penghargaan sama sekali, justru guru yg "curang" konon bisa cepat naik kariernya... Jadi bila pemerintah pusat menginginkan mutu pendidikan nasional menjadi lebih baik maka putuskan wewenang pemerintah daerah dalam mengatur pendidikan dasar dan menengah... Selama otda, saya seumur-umur sudah jadi guru 23 tahun lebih, baru di Rejang Lebong menemukan guru yang berbasis sarjana sosial "disuruh" mengajar fisika... Bahkan tamatan SLTA "diizinkan" mengajar bahasa inggris di SLTA.. Belum lagi kecurangan lain di bidang pendidikan sejak otda di kabupaten ini berjalan... Bagaimana kita bisa berharap pendidikan anak bangsa maju... Cuma angan-angan kosong dan mimpi di siang bolang berharap pendidikan Indonesia maju kalau wewenang daerah di provinsi tercinta ini, di Bengkulu bisa maju..

    ReplyDelete