Sunday, September 15, 2013

Sertifikasi Guru Tahun 2015 Melalui Program PPG

Pelaksanaan Sertifikasi Guru melalui program PLPG dan portofolio akan berakhir pada 2014 mendatang. Selanjutnya, mulai 2015 sertifikasi guru hanya akan diberikan melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dilaksanakan selama setahun.

"Inti dari pemberlakuan sertifikasi guru ialah pemerintah ingin meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme guru. Memang saat ini ada beberapa program yang dijalankan yakni PLPG, portofolio dan PPG. Namun sudah dipastikan nantinya hanya program PPG yang akan dijalankan pemerintah," ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Kadarmanta Baskara Aji Kamis (22/8/2013).

Dijelaskan Aji, program PLPG dan portofolio saat ini masih dijalankan sebagai program masa transisi menuju 2015 dengan PPG penuh. Dan untuk penyelenggaranya sendiri masih akan dilaksanakan oleh Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang ditunjuk.

"Peserta PPG nantinya akan menjalani masa pendidikan selama 2 semester atau 1 tahun. Dengan begitu diharapkan kompetensi dan profesionalisme guru benar-benar lebih terjamin dibandingkan melalui PLPG yang pelaksanaannya tak sampai dua minggu," imbuhnya.

Aji berpendapat, pelaksanaan PPG ke depan haruslah langsung diarahkan bagi alumni Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Layaknya tenaga kerja profesional, PPG dapat dijadikan sebagai pendidikan profesi bagi lulusan LPTK yang benar-benar ingin menjalani profesi sebagai guru. Dengan begitu, pendidikan profesi sudah didapat para guru sejak awal, bukan pada masa bekerja atau bahkan menjelang pensiun.

"PPG sendiri nantinya akan dibagi menjadi dua jalur pembiayaan yakni dibiayai pemerintah dengan sistem seleksi dan biaya pribadi. Namun saya pastikan biayanya tidak akan lebih mahal dari biaya perkuliahan, sehingga dengan biaya sendiri pun para guru masih mampu," imbuhnya.

Diungkapkan Aji, sampai saat ini sudah lebih dari setengah guru di DIY yang dinyatakan profesional. Kebanyakan dari mereka memang mendapatkan sertifikasi melalui PLPG.

Sementara itu, Guru sebuah SMK Kulonprogo Andri menuturkan, sebagai proses pembelajaran guna meningkatkan kualitas guru, program PPG memang lebih tepat dibanding PLPG. Menurutnya, program PLPG hanya melahirkan guru 'karbitan'. Hal ini dilihat dari masa pelaksanaan program PLPG yang hanya berkisar 9 hari. Menurutnya proses PPG lebih bisa mematangkan proses keilmuwan yang diterima peserta. Tidak seperti PLPG yang dituntut profesional hanya dalam 9 hari.

Sumber: Koran Sindo
Read More...

Kemenag Berjanji Segera Lunasi Tunjangan Sertifikasi Guru Agama Rp 1,8 Triliun

Kementerian Agama (Kemenag) mengakui masih memiliki tunggakan yang cukup besar untuk tunjangan sertifikasi sebagian guru agama di seluruh Indonesia. Jumlah utang tersebut mencapai Rp 1,8 triliun. Jumlah sebesar tersebut terdiri dari beberapa tunjangan profesi guru yang belum sempat terbayarkan pada 2009 lalu. Disamping itu Komisi VIII DPR juga sudah mendesak agar Kemenag melunasi tunjungan profesi guru Madrasah tersebut.

Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengakui, Kemenag memang memiliki utang yang cukup besar pembayaran tunjangan sertifikasi guru agama, yakni sebesar Rp 1,8 triliun.

Suryadharma pun berjanji akan segera melunasi kewajiban kementerian yang dipimpinnya ini paling tidak 2014 tahun depan. "kita berharap selambat-lambatnya 2014 selesai," ujarnya. Pihaknya berjanji anggaran ini akan masuk anggaran Kemenag tahun depan depan. Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan pemerintah segera mencari jalan untuk melunasi tunjangan guru Madrasah sebesar Rp1,8 triliun.

Alasan belum terselesaikannya kewajiban Kemenag melunasi tunjangan sertifikasi guru agama ini, ungkap dia, karena masalah pendataan dan administrasi guru tersertifikasi. Akibatnya, penyediaan anggaran juga belum bisa dilakukan karena tingkat akurasinya rendah.

Menteri Koodinasi Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) telah meminta ke Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan penelaahan pemutakhiran data. Audit BPKP ini agar angkanya besaran hutang ini semakin akurat. Kemudian kemenag akan menganggarkan sesuai data dan jumlah yang akurat tadi.

"Kami melihat angka Rp 1,8 triliun akurasinya belum pas, karena itu perlu audit BPKP agar angkanya akurat. Kemudian kemenag akan menganggarkan besaran yang tepat untuk pembayaranny," ungkap Suryadjarma.

Namun, Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag, Nur Syam mengungkapkan pembayaran hutang tunjangan sertifikasi guru agama ini tidak bisa dibayarkan secara langsung karena jumlahnya yang cukup besar. Rencananya, ujar dia, Kemenag baru bisa membayar 30 persen untuk tahap pertama yang akan dibayarkan tahun depan.

Menurut dia, ada dua kategori guru yang belum mendapatkan tunjangan sertifikasi guru agama ini. Yakni pada guru-guru agama PNS dan non PNS di Madrasah dari Ibtidaiyah hingga Aliyah. Sebelumnya Kemenag telah berupaya segera melunasi hutang ini, dengan berusaha meminta tambahan anggaran ke DPR.

Namun sayangnya, kata dia, pihak DPR tidak setuju, dan mengusulkan hutang Rp1,8 triliun dimasukkan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKA-KL). Setelah dikomparisakan dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP), ternyata anggarannya tidak cukup untuk membayar Rp1,8 triliun yang dianggap terlalu besar.

Sebelumnya Komisi VIII mendesak Kemenag segera melunasi tunggakan hutang kepada guru agama baik PNS dan Non PNS. Bahkan Komisi VIII juga memberikan tenggar paling lambat Kemenag bisa membayar setengah tunggakan tunjangan sertifikasi guru Agama tersebut pada tahun ini, sehingga tahun 2014 permasalahan tersebut sudah selesai.

Sumber: Koran Sindo
Read More...